Sabtu, 11 November 2017

KPK Vs Setnov Jilid 2 : Pertarungan Hidup dan Mati


Berita24News.blogspot.com - Dulu, Saddam Hussein mengatakan kepada Presiden George Bush Sr bahwa Amerika Serikat (AS) akan menghadapi “the mother of battles” (induk segala pertempuran) kalau dia (Bush) berani menghadapi tentara Irak yang menduduki Kuwait di tahun 1990. Tetapi, “induk segala pertempuran” itu tidak terbukti. AS dengan mudahnya menyingkirkan tentara Irak dari Kuwait.

Dalam jilid dua drama KPK vs Setya Novanto (Setnov) yang baru saja dimulai dengan penetapan status tersangka untuk kedua kalinya terhadap Ketua DPR itu, saya ingin meminjam “branding” yang dipopulerkan oleh Saddam tsb. Menurut hemat saya, “the mother of all battles” (induk segala pertempuran) versi e-KTP ini hampir pasti akan terjadi, sebagaimana digambarkan oleh Pak Saddam.

Kedua pihak, KPK dan Setnov, akan mengerahkan semua “senjata” dan sumberdaya untuk memenangkan pertempuran hukum ini. Setelah dikalahkan oleh Setnov di praperadilan, kali ini KPK pasti telah menyiapkan segala kemungkinan. Bagi KPK, Setnov tidak boleh lagi lepas dari kejaran hukum. Begitu juga sebaliknya. Setnov merasa kemenangannya di prapradilan semakin meyakinkan dirinya bahwa KPK tidak akan bisa menang.

KPK, menurut hemat saya, melihat kasus e-KTP, khsusnya upaya untuk membekuk Setnov, sebagai taruhan terbesar sejak lembaga itu berdiri. Pembuktian korupsi dan hukuman terhadap Setnov menjadi sangat krusial.
Inilah yang akan memicu “all out war” (perang total) antara kedua pihak. Jadi, kita akan menyaksikan “the mother of all battles” dalam makna yang sebenarnya. Bukan dalam arti ecek-ecek.
Drama jilid dua antara KPK dan Setnov akan menjadi “masalah hidup-mati” bagi kedua pihak. Bagi KPK, jilid dua ini harus membuat Setnov “knocked-out” (KO). Minimum. KPK tidak boleh menang TKO (technical knocked out), alias “menang basa-basi”. Dalam bahasa jalanannya, KPK melihat Setnov harus “padam” once and for all (tuntas). Harus menghuni penjara. Ini kira-kira sasaran KPK. Lembaga antikorupsi itu harus menang, tidak mengenal posisi “runner-up”. Yaitu, posisi yang nantinya masih bisa “dihibur-hibur” kalau mereka kalah di tangan Setnov.
Bagaimana dengan Setnov? Beliau pun begitu juga. Hanya ada satu opsi: menang. Kalah adalah kehancuran total Setnov. Dia akan diusir dari Golkar dan dari DPR. Orang Melayu mengatakan, bakal “terbuang buruk”. Hampir pasti tidak akan ada lagi tempat bagi Setnov di panggung politik. Kecuali dia mau buat parpol baru setelah KO lawan KPK.
Kemudian, bagaimana prediksi jalannya pertempuran? Pasti seru. Karena sentrum pertarungan ini adalah integritas kedua pihak. Soal harga diri. Dalam banyak contoh, orang akan rela mengorbankan nyawanya untuk membela harga diri. KPK dan Setnov sadar bahwa pertarungan mereka di babak kedua ini, tidak main-main.
Hanya saja, ada perbedaan kontras persepsi mayoritas rakyat terhadap kedua pihak. Di mata rakyat, KPK mengemban misi yang mulia untuk memberantas korupsi. Dus, KPK turun ke medan perang dengan landasan moralitas yang sangat kuat meskipun banyak masalah di internal KPK. Sedangkan Setnov kebalikannya. Bagi rakyat, dia tidak lagi memiliki pijakan moral, setelah nama beliau banyak disebut di berbagai dokumen proyek e-KTP dan di dalam persidangan sejumlah terdakwa skandal besar ini.
Untuk pembahasan KPK-Setnov jilid dua ini, perlu kita buat kesimpulan agar kita tidak keliru melihat kedua pihak.
Pertama. Dengan segala kekurangan dan problem internalnya, Indonesia memerlukan KPK. Sebaliknya, dengan segala catatan negatif tentang Pak Setnov, Indonesia tidak memerlukan Setya Novanto. Indonesia sudah terlalu banyak buang-buang waktu dan sumberdaya untuk orang-orang seperti beliau. Mohon maaf sekali, Pak Ketua.
Kedua. Kalaupun banyak masalah internalnya, KPK masih bisa kita perbaiki melalui berbagai strategi dan tindakan yang sifatnya regulatif. Sedangkan sebaliknya, personalitas seperti Pak Setnov kelihatannya akan menimbulkan mudarat yang lebih besar lagi bagi rakyat Indonesia, khususnya bagi pendidikan politik bangsa yang bertujuan untuk membersihkan negara dari mentalitas koruptif.
Read More

Rasulullah Menangis Ketika Menceritakan Kaum Wanita


Suatu hari Ali bin Abi Thalib melihat Rasulullah 
menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah menangis. Beliau menjawab, “Pada malam aku di-isra’- kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan di dalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis.”
Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya.
“Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya. Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka,” kata Nabi SAW.
Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?
Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan mahromnya.”
Perempuan yang digantung payudaranya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.
Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.
Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.
Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan mahrom dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.
Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.
Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuanya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat didepan orang lain.

Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya dialam jagad raya. kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur’an dan hadist, balasanya adalah surga dengan segala kenikmatan di dalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al Qur’an dan hadist, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.
Read More

Alumni 212 akan Gelar Reuni Akbar di Monas


Berita24News.blogspot.com - Presidium Alumni 212 merencanakan agenda akbar. Mereka akan menggelar reuni akbar di Monas, Jakarta Pusat, Desember mendatang.

"Insya Allah tanggal 2 bulan 12, 212, kita akan ada acara reuni akbar di Monas. Insya Allah," ujar Ketua Presidium Alumni 212 Slamet Maarif di Masjid Jami Al Ma'mur Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (5/11/2017).

Slamet ingin alumni 212 kompak. Slamet mengimbau agar jemaah salat subuh di Masjid Jami Al Ma'mur menghadiri milad pertama Brigade Jawar Betawi 411 di Monas pagi ini.

"Mari sama-sama kita meriahkan, sama-sama kita berkumpul di kawasan Monas, Patung Kuda, untuk menghadiri acara milad pertama Jawara Betawi 411 sekaligus mengenang kembali peristiwa 411 satu tahun yang lalu," terang dia.

"Mari sama-sama kita meriahkan, sama-sama kita berkumpul di kawasan Monas, Patung Kuda, untuk menghadiri acara milad pertama Jawara Betawi 411 sekaligus mengenang kembali peristiwa 411 satu tahun yang lalu," terang dia.

Sebelumnya, Brigade Jawara Betawi 411 bersama Presidium Alumni 212 salat subuh berjamaah di Tanah Abang. Mereka sempat mendengarkan suara Habib Rizieq Syihab yang direkam dari Mekkah.
Read More